Proses pembajakan Sawah

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Proses Semai

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Padi Mulai Berbuah

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Panen Oleh Penyuluh Kecamatan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Proses Penimbangan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 20 Januari 2016

Daftar Bahan Aktif Pestisida yang Dilarang Pemerintah

Terdapat beragam jenis bahan aktif pestisida yang dilarang pemerintah karena dianggap membahayakan. Berikut ini akan disebutkan jenis-jenis bahan aktif tersebut yang peredarannya sudah dilarang atau yang masih hanya dibatasi oleh pemerintah.
Dengan sejarahnya yang lama digunakan, bahan ini mengalami berbagai pro dan kontra terkait dengan keamanannya bagi kesehatan dan lingkungan. Sejarah mencatat, bagaimana pestisida yang dulunya dielu-elukan kemudian dilarang oleh pemerintah karena dianggap menyebabkan kerugian yang besar. Misalnya Dikloro Difenil Trikloroetan atau yang biasa dikenal sebagai DDT. DDT dulunya sangat diandalkan dalam bidang pertanian untuk membasmi serangga namun kini penggunaannya dilarang pemerintah. DDT dilarang karena bahan aktifnya termasuk bahan aktif pestisida yang dilarang pemerintah.Pestisida atau anti hama mengacu pada bahan sintetis yang dibuat dengan tujuan untuk melindungi produk dari berbagai jenis hama, gulma, hingga penyakit. Produk ini memiliki sejarah penggunaan yang lama pada berbagai bidang yang dikelola manusia.
Selian DDT, sebenarnya masih banyak lagi contoh pestisida lain yang berubah pamor dari disukai hingga dilarang. Pelarangan seperti ini biasanya terjadi dalam beberapa skala. Ada bahan aktif dalam pestisida yang dilarang secara umum. Namun, ada pula bahan aktif dalam pestisida yang dilarang pemerintah secara terbatas.
Berikut ini daftar bahan aktif pestisida yang dilarang oleh pemerintah. Semua pestisida yang memiliki kandungan bahan aktif di bawah ini telah dilarang penggunaan dan peredarannya oleh pemerintah.

Tabel Jenis Bahan Aktif Pestisida yang Dilarang Pemerintah

NONAMA BAHAN AKTIFNONAMA BAHAN AKTIF
12, 3, 5 – T21Arsonat (MSMA)
22, 4, 5 – Triklorofenol22Cyhexatin
3Aldikarb23Klordan
4Aldrin24Heptaklor
562, 4, 6 – Triklorofenol25Kaptafol
7Natrium 4 – Brom – 2, 5 – diklorofenol26Klordimefon
8Lindan27Leptofos
9Metoksiklor28Diklorodifeniltrikloroetan (DDT)
10Senyawa arsen29Dibromokloropropan (DBCP)
11Mevinfos30Dielrin
12Monosodium metam31Natrium klorat
13Natirum tribromofenol32Paration metal
14Diklorofenol33Pentaklorofenol (PCP) dan garamnya
15Dinoseb34EPN
16Strikhnin35Endrin
17Telodrin36Etilen Dibromidal (EDB)
18Fosfor Merah37Senyawa merkuri
19Halogen fenol38Heksaklorida (HCH) dan isomernya
20Toxaphene
Sedangkan berikut ini adalah daftar bahan aktif pestisida yang peredarannya masih hanya dibatasi oleh pemerintah Indonesia
NONama FormulasiNama dan Kadar Bahan Aktif
1GramoxoneParakuat diklorida: 276 g/l(setara dengan ion parakuat: 200 g/l)
2Gramoxone Sparakuat diklorida: 276 g/l(setara dengan ion parakuat: 200 g/l
3Magtoxin 60 PtMagnesium fosfida: 57%
4Magtoxin 60 PtMagnesium fosfida: 57%
5Celphos 56 Taluminium fosfida: 56%
6Mestagasaluminium fosfida: 60,7%
7Metabrom 98 LGmetil bromida: 98%
8Phostoxin 57 Paluminium fosfida: 57%
9Mebrom 98 LGmetil bromida: 98%
10Nuvan 50 ECdiklorvos: 500 g/l
11Nuvantop 500 ECdiklorvos: 500 g/l
12Kovin 80 Pseng fosfida: 80%
13Phostoxin 56aluminium fosfida: 56%
14Sobrom 98 LGmetil bromida: 98%
15Para-colparakuat diklorida: 248,4 g/l(setara dengan ion parakuat: 180 g/l)
16Supracide 40 ECmetidation: 420 g/l
17Termisidin 350 ECendosulfan: 332,5 g/l
18Herbatop 276 ASparakuat diklorida: 276 g/l(setara dengan ion parakuat: 200 g/l)
Demikian jenis-jenis bahan aktif pestisida yang dilarang pemerintah. Semoga bermanfaat!

Senin, 11 Januari 2016

BioFungisida

2.1  Pengertian Biofungsida
Biofungisida merupakan jenis pestisida  dari organisme tertentu yang digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur pada tanaman.

Fungisida adalah pestisida yang secara spesifik membunuh atau menghambatcendawan penyebab penyakit.[1] Fungisida dapat berbentuk cair (paling banyak digunakan), gas, butiran, dan serbuk. Fungisida dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu fungisida selektif (fungisida sulfurtembagaquinon, heterosiklik) dan non selektif (fungisida hidrokarbon aromatik, anti-oomycotaoxathiin, organofosfat, fungisida yang menghambat sintesis sterol, serta fungisida sistemik lainnya).[2] Fungisida selektif membunuh jamur tertentu namun tidak menyakiti jamur lainnya.
Fungisida juga dapat dikategorikan sebagai fungisida kontak, translaminar, dan sistemik. Fungisida kontak hanya bekerja di bagian yang tersemprot. Fungisida translaminar mengalir dari bagian yang disemprot (daun dan bagian atas tanaman) ke bagian yang tidak disemprot (ke bawah). Fungisida sistemik diserap oleh tumbuhan dan didistribusikan melalui sistem pembuluh tanaman.

2.2  Manfaat Biofungsida
a.       Penggunaan pestisida yang berasal dari bakteri (biofungisida) lebih aman dibandingkan pestisida kimia (fungisida) dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen(perusak) pada tanaman.
b.      penggunaan pestisida yang berasal dari mikroorganisme menguntungkan seperti bakteri atau dalam bahasa ilmiah biofungisida lebih unggul dibanding penggunaan pestisida kimia dalam membunuh jamur atau cendawan yang bersifat merusak pada salah satu penyakit tanaman.

2.3  Penggunaan Biofungida
a.      Trichoderma sp. sebagai Pupuk Biologis Dan Biofungisida
Salah satu mikroorganisme fungsional yang dikenal luas sebagai pupuk biologis tanah dan biofungisida adalah jamur Trichoderma sp. Mikroorganisme ini adalah jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman lapangan. Spesies Trichoderma disamping sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agensia hayati seperti T. Harzianum, T. Viridae, dan T. Konigii yang berspektrum luas pada berbagai tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma dalam media aplikatif seperti dedak dapat diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai biodekomposer, mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan dan ranting tua) menjadi kompos yang bermutu. Serta dapat berlaku sebagai biofungisida. Trichoderma sp dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada tanaman antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium oxysporum, Rizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, dll.
Sifat antagonis Trichoderma meliputi tiga tipe :
1.      Trichoderma menghasilkan sejumlah enzim ekstraseluler beta (1,3) glukonase dan kitinase yang dapat melarutkan dinding sel patogen
2.      Beberapa anggota trichoderma sp menghasilkan toksin trichodermin. Toksin tersebut dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya
3.      Jenis Trichoderma viridae menghasilkan antibiotik gliotoksin dan viridin yang dapat melindungi bibit tanaman dari serangan penyakit rebah kecambah
Pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma sp dapat dibuat dengan inokulasi biakan murni pada media aplikatif, misalnya dedak. Sedangkan biakan murni dapat dibuat melalui isolasi dari perakaran tanaman, serta dapat diperbanyak dan diremajakan kembali pada media PDA (Potato Dextrose Agar). Isolasi banyak dilakukan oleh kalangan peneliti maupun produsen pupuk, tetapi masih terlalu merepotkan untuk diadopsi oleh petani. Sebagai petani, untuk lebih efisiennya dapat memproduksi pupuk biologis yang siap aplikasi saja, sehingga hanya perlu membeli dan memperbanyak sendiri biakan murninya dan diinokulasikan pada media aplikatif. Atau jika menginginkan kepraktisan dapat membeli pupuk yang siap tebar untuk setiap kali aplikasi.
Dari beberapa literatur yang pernah saya baca dengan penambahan pupuk biologis Trichoderma sp akan meningkatkan efisiensi pemupupukan. Pada tanah yang tandus pemberian pupuk organik Trichoderma sp dan pupuk kimia secara bersamaan akan memberikan hasil yang maksimal daripada pemberian pupuk organik atau pupuk kimia secara terpisah walaupun dengan jumlah yang banyak. Dengan pemberian pupuk organik akan menghemat penggunaan pupuk kimia.
Biasanya penyakit layu dan busuk pangkal batang pada tanaman disebabkan oleh jamur fusarium sangat sulit dikendalikan dengan fungisida kimia. Oleh karena itu tidak ada salahnya kita mencoba mengaplikasikan pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma sp pada tanaman kita untuk mencegah penyakit akar dan busuk pangkal batang yang dapat menyebabkan layu tanaman.
Seperti kita ketahui salah satu diantara biofungisida yang dapat mengendalikan akar gada padatanaman kubis dan layu pada tanaman hortikultura yang disebabkan jamur Fusarium sp adalahTrichoderma sp.
Seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu Trichoderma sp selain bersifat sebagai biofungsida juga bisa digunakan sebagai dekomposer pada pembuatan pupuk organik.Trichoderma sp juga mempunyai sifat antagonis terhadap beberapa jamur penyebab penyakit tanaman diantaranya Fusarium moniliforme dan Sclerotium rolfsii. Cendawan tersebut mengendalikan penyakit tanaman dengan cara menghambat timbulnya racun dari cendawan yang dapat menyebabkan tanaman sakit. Mekanisme antagonistik cendawan antagonis terjadi melalui kompetisi, antibiosis, dan hiperparasitisme.
b.      Penggunaan Biofungisida Pada Usaha Perkebunan
Berbeda dengan jenis-jenis fungisida yang telah banyak beredar dan dikenal petani, maka produk biofungisida Naturalindo ini merupakan jenis fungisida yang ramah lingkungan. Sebagai bahan aktif dari produk ini adalah jenis jamur yang secara spesifik dapat mematikan jenis jamur lain yang bersifat patogen pada tanaman.
Naturalindo telah digunakan pada tanaman hortikultura seperti cabai, jagung, kedelai, kacang tanah dan sayur-mayur dengan hasil yang memuaskan. Untuk tanaman keras telah dicoba pada alpukat dengan hasil yang baik pula. Usaha serupa pada jenis tanaman buah-buahan lainnya sedang dilakukan, misalnya pada durian.
1.      Mekanisme Pengendalian
Mekanisme pengendalian jamur patogen oleh biofungisida Naturalindo secara alamiah dapat dikelompokkan menjadi 3 fenomena dasar, yaitu:
a.       Terjadinya kompetisi bahan makanan antara jamur patogen dengan bahan aktif biofungisida Naturalindo di dalam tanah. Adanya pertumbuhan yang berjalan begitu cepat dari jamur agensia aktif dari biofungisida Naturalindo ini akan mendesak pertumbuhan jamur patogen.b.    Mikoparasitisme. Jamur agensia aktif biofungisida Naturalindo merupakan jamur yang mempunyai sifat mikoparasitik, artinya jamur Trichoderma tergolong dalam kelompok jamur yang menghambat pertumbuhan jamur lain melalui mekanisme parasitisme. Mekanisme yang terjadi adalah bahwa selama pertumbuhan jamur ini di tanah yang berjalan begitu cepat, jamur ini akan melilit hifa jamur patogen. Bersama dengan pelilitan hifa tersebut, dia mengeluarkan enzim yang mampu merombak dinding sel hifa jamur patogen, sehingga jamur patogen mati. Beberapa jenis enzim pelisis yang telah diketahui dihasilkan adalah enzim kitinase dan b -1,3 glucanase.
b.      Antibiosis. Ternyata agensia aktif biofungisida Naturalindo selain menghasilkan enzim pelisis dinding sel jamur juga menghasilkan senyawa antibiotik yang termasuk kelompok furanon dapat menghambat pertumbuhan spora dan hifa jamur patogen, diidentifikasikan dengan rumus kimia 3-(2-hydroxypropyl-4-2-hexadienyl ) -2-(5H)-furanon
Ketiga mekanisme ini berjalan secara simultan dan sekaligus.
2.      Keunggulan
Keunggulan biofungisida Naturalindo dibandingkan dengan jenis fungisida kimia sintetik adalah selain mampu mengendalikan jamur patogen di dalam tanah, ternyata juga dapat mendorong adanya fase revitalisasi tanaman. Revitalisasi ini terjadi karena adanya mekanisme interaksi antara tanaman dan agensia aktif Naturalindo dalam memacu hormon pertumbuhan tanaman.
3.      Keuntungan
Minimal ada 2 hal pokok keuntungan penggunaan produk biofungisida Naturalindo, yaitu :
1.      Biaya lingkungan.
Agensia aktif dari Biofungisida Naturalindo adalah jasad hidup yang berasal dari tanah. Saat aplikasi dikembalikan ke dalam habitatnya yaitu tanah, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif pada lingkungan. Dengan demikian biaya lingkungan bisa dikatakan tidak ada, berbeda dengan fungisida kimiawi yang memberikan efek residu yang membahayakan lingkungan dan mahluk hidup lainnya.
2.      Revitalisasi tanaman
Telah dikemukakan di depan bahwa biofungisida Naturalindo mempunyai efek ganda, karena adanya hormon tanaman yang dihasilkan selama proses aplikasi. Aplikasi biofungisida ini memberikan kelulusan hidup yang bermakna terhadap tanaman yang telah terserang penyakit busuk akar, karena kemampuan mendorong revitalisasi tanaman.
3.      Keuntungan ekonomis
Dibandingkan dengan penggunaan fungisida kimia sintetik, aplikasi biofungisida Naturalindo jauh lebih murah dan menguntungkan terutama dalam upaya untuk pemeliharaan perkebunan.
4.      Teknik Aplikasi
Cara aplikasi biofungisida Naturalindo tergantung pada maksud dan tujuannya. Namun secara umum, dengan menaburkan biofungisida bentuk granula ke dalam lubang tanam atau ditebarkan pada daerah sekitar perakaran tanaman yang telah digali, kemudian ditutup kembali dengan tanah. Berikut ini diberikan contoh penggunaan pada tanaman alpukat.
1.        Proteksi Bibit Tanaman
Tindakan ini mempunyai tujuan untuk melindungi tanaman muda dari serangan jamur patogen tular tanah yang akan merusak sistem perakarannya. Dengan adanya proteksi ini diharapkan kelulusan hidup tanaman akan lebih tinggi. Untuk proteksi bibit dapat diberikan biofungisida Naturalindo granula dengan dosis 30 – 50 g/pohon.

2.        Proteksi Tanaman
Wabah penyakit busuk umumnya akan memuncak pada musim hujan. Untuk itu tindakan proteksi tanaman perlu dilakukan dengan dosis 50 g/pohon, diberikan pada awal musim penghujan sehingga pada waktu musim hujan penuh, diharapkan populasi jamur patogen dapat ditekan dan tidak sempat menyerang akar tanaman.
3.        Tindakan Kuratif
Tindakan kuratif dimaksudkan untuk mengendalikan jamur patogen yang telah menyerang tanaman. Penyerangan jamur patogen ini biasanya ditandai dengan sosok tanaman yang layu dengan sistem perakaran yang busuk dan dipenuhi hifa jamur patogen. Untuk tindakan kuratif dapat diberikan dosis 100 – 150 g/pohon.

c.       Potensi Rhizobakteria sebagai Agen Biofungisida untuk Pengendalian Jamur Fitopatogen fusarium sp.
Pembangunan pertanian di indonesia saat ini memasuki masa transisi dari orientasi pertanian dengan pola subsisten kepada pola komersial. Pergeseran tersebut membawa konsekuensi penggunaan pestisida sebagai salah satu komponen penting dalam mengatasi organisme pengganggu tanaman (OPT), salah satu kendala bagi pembangunan pertanian yang berorientasi ekonomi. Sementara itu pengendalian penyakit tanaman menggunakan bahan-bahan kimia kini mulai dihindari karena berdampak negatif bagi lingkungan, oleh karena itu penggunaan fungisida nabati (biofungisida) mutlak diperlukan
Salah satu kendala yang dihadapi oleh para petani saat ini antara lain ditemukannya penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh jamur Fusarium sp. Jamur ini banyak menyerang tanaman kentang, pisang, tomat, ubi jalar, strawberry dan bawang daun. Teknologi pertanian, khususnya dalam pengendalian penyakit tanaman akibat jamur patogen Fusarium sp. di Indonesia pada saat ini masih banyak mengandalkan penggunaan fungisida sintetik. Penggunaan fungisida yang tidak bijaksana dapat menimbulkan masalah pencemaran lingkungan, gangguan keseimbangan ekologis dan residu yang ditinggalkannya dapat bersifat racun dan karsinogenik. Spesies jamur Fusarium sp. merugikan para petani, serangan jamur ini menyebabkan tanaman mengalami layu patologis permanen yang berakhir dengan kematian.
Kebijakan global mengenai pembatasan penggunaan bahan aktif kimiawi pada proses produksi pertanian pada gilirannya akan sangat membebani pertanian Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat ketergantungan petani terhadap pestisida kimia. Ketergantungan inilah yang akan melemahkan produk pertanian asal Indonesia dan daya saingnya di pasar global. Menghadapi kenyataan tersebut agaknya perlu segera diupayakan pengurangan penggunaan fungisida kimiawi dan mengalihkannya pada jenis fungisida yang aman bagi lingkungan,yakni dengan cara pengendalian hayati menggunakan rhizobakteri (bakteri yang hidup di sekitar akar tanaman) sebagai agen hayati biofungisida untuk mengontrol serangan spesies jamur pengganggu.
Beberapa agen pengendali hayati yang mempunyai kemampuan dalam pengendalian patogen melalui tanah, salah satunya adalah bakteri yang hidup di sekitar akar (Rhizobakteria). Bakteri dilaporkan bisa menekan pertumbuhan jamur patogen dalam tanah secara alamiah, terdapat beberapa genus bakteri yang berasosiasi dengan tanaman sebagai penghambat pertumbuhan jamur, yaitu Alcaligenes, Acinetobacter, Enterobacter, Erwinia, Rhizobium, Flavobacterium, Agrobacterium, Bacillus, Burkholderia, Serratia, Streptomyces, Azospirillum, Acetobacer, Herbaspirillum  dan Pseudomonas. Rhizobakteria ini mampu menjadi agen antagonis untuk mengendalikan pertumbuhan jamur. Rhizobakteria bersimbiosis mutualisme secara tidak langsung dengan tanaman, karena beberapa bakteri dilaporkan mampu menstimulasi pertumbuhan tanaman atau disebut sebagai mikroorganisme PGPR (Plant growth-promoting rhizobacteria). 
Rhizobakteri mampu menghambat pertumbuhan jamur melalui sintesis senyawa antifungi dan aktivitas degradasi kitin yang merupakan komponen utama penyusun dinding sel jamur Fusarium sp. Rhizobakteri yang digunakan bersifat non patogen pada manusia, sehingga produk pertanian akan aman untuk dikonsumsi. Aplikasi penggunaanya pun cukup praktis, petani bisa menggunakan kultur cair rhizobakteria secara langsung (dengan pengenceran), menggunakan senyawa aktif biofungisida yang dihasilkan bakteri atau digunakan sebagai inokulum tambahan pada proses pengomposan. Pengembangan rhizobakteria sebagai agen antagonis penghambat pertumbuhan fitopatogen Fusarium sp di Indonesia sendiri masih belum optimal. Penggunaan beberapa rhizobakteria yang dilakukan baru sebatas tingkat daerah, belum sampai skala nasional. Hal ini sangat disayangkan, mengingat penggunaan rhizobakteria sebagai biofungisida dari hasil penelitian yang telah dilakukan terbukti efektif dalam mengendalikan fitopatogen.
Penggunaan Rhizobakteria sebagai biofungisida untuk mengendalikan jamur Fusarium sp memiliki beberapa keunggulan, antara lain: mampu membantu revitalisasi tanaman dengan dihasilkannya hormon pertumbuhan seperti  IAA (auksin) dan sitokinin; lebih ramah lingkungan dan biodegradable; penggunaannya lebih mudah dan murah, bersifat non-patogen dan tidak membahayakan bagi hewan dan manusia. Aplikasi rhizobakteria sebagai biofungisida juga memiliki beberapa kekurangan yakni diperlukan adanya analisis resiko rhizobakteria yang digunakan sebelum dipasarkan sebagai agen biofungisida. Beberapa agen hayati kemungkinan mempunyai hubungan yang erat dengan patogen yang menyebabkan penyakit pada manusia, hewan, dan tanaman. Kajian khusus untuk mengelaborasi peluang tersebut perlu dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan akibat penggunaan suatu agen hayati.